APAKABARINDONESIA.COM – Jakarta – Presidium President Center dan Cucu Pendiri Yayasan Sabilil Muttaqien, Danu Agoesan mengajak masyarakat berhati-hati dalam memilih pemimpin.
Dia mengingatkan agar tidak memilih pemimpin yang punya track record memakai politik identitas dan menghasut masyarakat dengan data bohong sebagai alat kampanye.
Danu Aguslan menyampaikan hal itu di Jakarta Selatan, Rabu 17 Januari 2024.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Kasubag TU Kantah Kabupaten Bogor I Beri Penjelasan Terkait Berkas Pemohon yang Diduga Hilang
Menterinya Dipanggil KPK! Surat Istri Menteri UMKM Viral, Warganet Ngamuk

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sudah saatnya masyarakat memiliki kekuasaan penuh untuk memilih pemimpinnya tanpa campur tangan pihak asing, yakni pada saat pemilu 14 Februari nanti.”
‘Karena keadaan dunia sekarang sedang tidak dalam keadaan baik baik saja dimana tengah berlangsung perang di Ukraina dan Timur Tengah”.
Baca artikel lainnya di sini : Pihak KPK Angkat Suara Terkait Sosok Pengganti untuk Mengisi Kekosongan Posisi Firli Bahuri
Baca Juga:
BPOM Temukan 9 Produk Obat Bahan Alam Mengandung BKO
Puluhan Demonstran Ditangkap Saat Tolak Operasi ICE, Suasana Tegang di Pengadilan Manhattan
Forum Purnawirawan TNI Usulkan Pemakzulan Gibran Rakabuming, Jokowi: Ikuti Mekanisme Ketatanegaraan
“Ditambah adanya pemilu di 60 negara pada tahun 2024 ini dikhawatirkan banyak kepentingan asing di Indonesia yang memiliki posisi geopolitik yang strategis dan memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah.”
“Oleh karena itu, saya ingatkan agar jangan sampai salah dalam memilih.”
“Utamanya jangan pernah memilih calon pemimpin yang suka memakai politik identitas dan menghasut dengan data bohong,” ujar Danu.
Lihat juga konten video, di sini: Seribu Kiai Kampung Dukung Prabowo – Gibran Saat Gibran Rakabuming Silaturahmi ke Ponpes Ibnu Sina
Baca Juga:
Polisi Periksa Rismon Hasiholan Tujuh Jam Terkait Dugaan Ijazah Palsu Presiden Jokowi
PPATK Deteksi Perputaran Dana Judi Online yang Tembus Rp47,97 Triliun di Kuartal Pertama Tahun 2025
Pemimpin yang suka menghasut dengan data bohong, lanjut Danu, akan cenderung memiliki sifat yang menghalalkan segala cara.
Jika seorang pembohong menjadi pemimpin, maka dia akan sering mencuri kekayaan negara untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.
“Kekayaan negara akan dikuras habis untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Maka masyarakat akan tetap menderita, sementara pemimpinnya akan menjadi semakin kaya,” kata Danu.
Lebih lanjut Danu mengungkapkan bahwa persatuan yang kuat di antara seluruh lapisan masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan.
Untuk menuju Indonesia maju, serta mementingkan kepentingan bangsa bukan kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dengan kemajuan itu, maka Indonesia sejahtera akan bisa terwujud menuju kembali kepada kejayaan Nusantara seperti yang dicita citakan para leluhur bangsa agar menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi.***






















